Minggu, 15 Agustus 2010

KETELADANAN RASULULLAH PERIODE MADINAH

1. Membangun masjid
Masjid Quba dibangun tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 1 Hijriah. Selanjutnya dibangun pula masjid kedua, yaitu Masjid Nabawi di Madinah. Peranan masjid pada masa Rasulullah antara lain sebagai berikut:
1. Sarana pembinaan umat Islam.
2. Sarana ibadah, shalat 5 waktu, Idul Adha, Idul Fitri, salat Jum’at, dan shalat Tarawih.
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Al Jin: 18)
Masjid di masa Rasulullah saw bukan hanya sebagai tempat penyaluran emosi religius semata ia telah dijadikan pusat aktivitas umat. Hal-hal yg dapat direkam sejarah tentang fungsi masjid di antaranya
• Tempat latihan perang. Rasulullah saw mengizinkan ‘Aisyah menyaksikan dari belakang beliau orang-orang Habasyah berlatih menggunakan tombak mereka di Masjid Rasulullah ` pada hari raya. .
.
• Menjadikan halaman masjid sebagai tempat pengobatan para penderita sakit Balai pengobatan tentara muslim yg terluka. Sa’d bin Mu’adz z terluka ketika perang Khandaq maka Rasulullah ` mendirikan kemah di masjid. .

• Tempat tinggal sahabat yg dirawat .

• Tempat menerima tamu. Ketika utusan kaum Tsaqif datang kepada Nabi saw beliau menyuruh sahabatnya utk membuat kemah sebagai tempat perjamuan mereka. .

• Tempat penahanan tawanan perang. Tsumamah bin Utsalah seorang tawanan perang dari Bani Hanifah diikat di salah satu tiang masjid sebelum perkaranya diputuskan. .

• Pengadilan. Rasulullah ` menggunakan masjid sebagai tempat penyelesaian perselisihan di antara para sahabatnya
• Tempat belajar dan mengajar tentang agama Islam.
• Tempat pertemuan untuk menjalin persaudaraan.
• Sarana kegiatan sosial.
• Sebagai tempat bermusyawarah.
2. Membangun Ukhuwah Islamiyah (Mempersaudarakan antara Kaum Muhajirin dan Anshar)
Rasulullah telah berhasil mempersaudarakan kaum Muhajirin (para sahabat Rasulullah r penduduk asli Mekkah yang hijrah ke Madinah) dengan kaum Anshar (para sahabat Rasulullah penduduk asli Madinah). Persaudaraan ini menciptakan kekuatan yang hebat dan persaudaraan baru yaitu persaudaraan yang berdasar agama.
Memperkokoh pilar-pilar ukhuwah islamiyah adalah kewajiban setiap Muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslimin untuk menegakkan ukhuwah. Hal itu termaktub dalam beberapa ayat di Al-Quranul Karim.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai hadits juga memerintahkan ummatnya untuk melakukan hal yang sama. Di bawah ini adalah beberapa hadits yang menjelaskan kedudukan ukhuwah dalam Islam. Di bawah ini adalah anjuran ukhuwah menurut Islam.

Lillahi Ta’ala
Semangat ukhuwah di antara sesama Muslim hendaknya didasari karena Allah semata, karena ia akan menjadi barometer yang baik untuk mengukur baik-buruknya suatu hubungan. Rasulullah bersabda, ”Pada hari kiamat Allah berfirman: Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku ini, aku menaungi mereka dengan naungan-Ku.” (HR Muslim)
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang bersaudara dengan seseorang karena Allah, niscaya Allah akan mengangkatnya ke suatu derajat di surga yang tidak bisa diperolehnya dengan sesuatu dari amalnya.” (HR Muslim)
Dalam keterangan yang lain Nabi Muhammad menjelaskan, ”Di sekeliling Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya yang ditempati oleh suatu kaum yang berpakaian dan berwajah (cemerlang) pula. Mereka bukanlah para nabi atau syuhada, tetapi nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang mereka.” Beliau menjawab, ”Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, bersahabat, dan saling mengunjungi karena Allah.” (HR Nasa’i dari Abu Hurairah Radiallahu ‘anhu)
Tidak Saling Menzhalimi
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzhalimi atau mencelakakannya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya sesama Muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar ra)
Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda, ”Janganlah kalian saling mendengki, melakukan najasy, saling membenci, memusuhi, atau menjual barang yang sudah dijual ke orang lain. Tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak menzhalimi, dan tidak membiarkan atau menghinakannya. Takwa itu di sini (beliau menunjuk ke dadanya tiga kali).”
Ibarat Satu Tubuh
Ukhuwah dalam Islam memperkuat ikatan antara orang-orang Muslim dan menjadikan mereka satu bangunan yang kokoh. “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam.” (HR Muslim)“Orang-orang Muslim itu ibarat satu tubuh; apabila matanya marasa sakit, seluruh tubuh ikut merasa sakit; jika kepalanya merasa sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.” (HR Muslim)
Merasakan Lezatnya Iman
“Barangsiapa ingin (suka) memperoleh kelezatan iman, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah.” (HR Ahmad)
Mengenal Baik Sahabatnya
“Jika seseorang menjalin ukhuwah dengan orang lain, hendaklah ia bertanya tentang namanya, nama ayahnya, dan dari suku manakah ia berasal, karena hal itu lebih mempererat jalinan rasa cinta.” (HR Tirmidzi)

Dengan hadis-kadis diatas rasulullah membangun ukhuwah islamiah denan kaum anshar.
3. Perjanjian antara Muslim dengan Non-mislim
Perjanjian ini adalah Piagam Madianh yang isinya antara lain:
1. Setiap golongan memiliki hak pribadi, keagamaan, dan politik. Hukuman boleh dijatukan untuk mereka yang berbuat kerusakan.
2. Tiap penduduk mendapat jaminan kebebasan beragama.
3. Semua penduduk berkewajiban mempertahankan kota Madinah.
4. Rasulullah sebagai pemimpin seluruh penduduk Madinah.

2. Meletakkan Dasar-Dasar Politik, Ekonomi, dan Sosial yang Islami demi Terwujudnya Masyarakat Madani
Rasulullah meletakkan dasar bagi sistem politik Islam, yakni musyawarah. Umat islam dapat mengangkat wakil-wakil rakyat serta membuat peraturan selama tak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadis.
Dalam bidang ekonomi Rasulullah meletakkan dasar keadilan bagi semua warga. Dalam bidang sosial, Rasulullah meletakkan dasar persamaan derajat semua individu, yang membedakan hanyalah amal shalehnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar